. Sejarah Perkembangan Sastra Pesantren.
Sastra pesantren bersumber pada sastra Islam klasik yang lahir di jazirah arab dan afrika, hal ini wajar karena kitab-kitab kuning sebagai pegangan khas warga pesantren adalah karya-karya ulama Islam dunia utamanya dari arab dan sekitarnya (selain juga karya-karya sastra para wali yang sembilan)
Uniknya sastra pesantren juga mengadopsi sastra-2 jawa baik pra islam [masa kerajaan-kerajaan Hindu] dan setelah islam berkembang [kerajaan Demak dsb] termasuk khasanah mitologinya. Tentu saja nukilan-nukilan naskah-naskah jawa itu muaranya dimaksudkan pada totalitas berislam/bertauhid/keimanan pada yang maha Pencipta.
Dikalangan pesantren sendiri perkembangan sastra pesantren dipelopori oleh pendiri NU Hadhrotus Syeikh Hasyim Asy’ari yang mempunyai diwan dalam bahasa arab “Diwanu Asy’ari”. Kemudian ada Kyai Hamid Pasuruan yang terkenal wali, yang dikenal sebagai seorang sastrawan yang aktif dengan menulis bahasa jawa-arab. Syeikh Nawawi Banten, Syeikh Mahfudz Termas, Syeikh Hamzah Fanshuri, Syeikh Abdur Rauf Sinkel Aceh, Syeikh Khatib Sambas, Syeikh Ihsan Jampes.
Pada era modern tradisi menulis di pesantren diwakili oleh KH Wahid Hasyim, KH Saifuddin Zuhri, KH Bisri Musthafa. Pada era 1980-an ada KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), KH Musthafa Bisri (Gus Mus) dan seterusnya. Jadi bisa dikatakan bahwa sastra pesantren memiliki sejarah yang gemilang, sudah selayaknya kita mampu mengambil keteladanan dari beliau-beliau, untuk kembali mengobarkan api kejayaan sastra pesantren.
B. Kemunduran Sastra Pesantren
Perkembangan sastra dan budaya baca tulis di lembaga pendidikan pesantren terkesan jalan di tempat, bahkan bisa dikatakan mandek. Akibatnya, hingga saat ini tidak banyak karya satra atau karya tulis yang bisa dihasilkan dari kalangan pondok pesantren.
“Pesantren saat ini memang sepi karya tulis. Hal itu terjadi karena kurang adanya keteladanan. Kiainya saja malas mengarang kitab, bagaimana santrinya bisa nulis. Perintah membaca saat ini masih disepelekan, belum ada perasaan berdosa saat tidak membaca. Padahal, wahyu pertama yang diterima nabi Muhammad SAW adalah perintah membaca,” ujar budayawan Ahmad Thohari.
Selain paparan oleh Ahmad Thohari diatas masih terdapat factor-faktor lain yang menghambat perkembangan sastra pesantren, KH. Abdurrahman Wahid, dalam sebuah esai pendeknya yang bertajuk ”Pesantren dalam Kesusasteraan Indonesia” (Kompas, 26 November 1973) menyebut bahwa pesantren belum menjadi medan pertaruhan bagi sastrawan Indonesia. Persoalan itu disebabkan oleh dua kendala: Pertama, karena persoalan dramatis di pesantren berlangsung pada ”taraf terminologis” yang tinggi tingkatannya.
Kedua, karena masih kakunya pandangan masyarakat kita terhadap manifestasi kehidupan beragama di negeri kita. Oleh Nurcholish Madjid, pandangan ini dinamai sakralisme agama. Dengan demikian, naluri sastra dan elastisitas bentuk penceritaan tidak memperoleh jalan pelepasan. Seberapa jauh alam keterbukaan yang konon demokratis ini bisa membuat masyarakat kita, khususnya para pengarang dan para kiai yang memegang otoritas pesantren, dapat mengatasi kendala-kendala di atas? Kita masih menunggu waktu yang memprosesnya.
Beberapa sastrawan pesantren seperti Emha Ainun Najib, Jamaluddin Kafie, Hamid Jabbar, Acep Zamzam Noor, Ahmadun Yosie Herfanda, Abdul Hadi WM, Fudholi Zaini, Danarto, D Zawawi Imron, Kuntowijoyo, Ibrahim Sattah, Jamal D. Rahman, Mathori A Elwa, Ahmad Nurullah, Zainal Arifin Thoha, Syubbanuddin Alwy, Isbedy Stiawan ZS, Abidah El-Khalieqy, Hamdy Salad, dan tentu saja KH Mustofa Bisri, serta sederet nama-nama lain yang mengusung sastra bernafaskan spiritual pesantren sebenarnya telah menandai bahwa sastra pesantren mulai terseok-seok naik ke permukaan. Tapi jika menengok sejarah, niscaya kita akan sangat menyayangkan jumlah para sastrawan pesantren yang tercatat pada masa kini. Karena seharusnya kuantitas dan kualitasnya jauh melebihi itu
C. Mengembalikan Kejayaan Saatra Pesantren.
Dari beberapa factor diatas, hendaknya kita mampu mengambil langkah-langkah taktis guna merangkak maju dan meraih kembali puncak kejayaan satra pesantren, diantaranya dengan menyadari segala keunggulan satra pesantren, yang kemudian memaksimalkannya.
Prof. Dr .KH. Said Aqil Siraj menyebutkan ciri penyair yang telah dijelaskan dalam Al-Quran, bahwa para penyair selalu mengikuti imajinasi dan mengembara ke mana-mana dan apa yang dituangkan jauh dari apa yang dilakukan. Tapi terdapat pengecualian atas hal ini, seperti ayat yang berbunyi berbunyi “kecuali orang-orang (para penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman. Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali” (Q.S. As-Syu’ara’: 227)
Di sinilah posisi sastra pesantren ditengah-tengah ‘sastra gelap’ lainnya. Ia menjadi begitu penting. Sastra pesantren adalah ‘sastra terang’ yang memberikan pencerahan bagi banyak orang yang membutuhkan secercah cahaya harapan masa depan. Ia diharapkan mampu memberikan penyadaran tidak saja bagi sang penyairnya sendiri, tetapi orang-orang dapat menikmatinya. Ia berusaha menelisik batin-batin para penyapanya sehingga mereka menjadi sadar bahwa mereka adalah manusia-manusia yang sedang mencari oase di tengah-tengah padang pasir tandus dan teramat panas. Sastra pesantren berusaha mengisi ruangan kosong dalam batin manusia-manusia yang sudah mulai kehilangan jati dirinya.
Tentang warisan tradisi menulis pesantren dan kenyataan dunia tulis pesantren, Prof. Dr .KH. Said Aqil Siraj mengkritik kemasan sastra pesantren yang umumnya "kurang menjual". Beliau berkata “Kita itu kaya khazanah, hanya kurang bisa mengemas. Mestinya kan luar-dalam harus bagus,”. Misalnya dengan memasukkan unsure-unsur kekinian, dan mau lebih terbuka dalam menampung ide-ide yang terkesan keluar dari tradisi pesantren, tidak serta-merta antipati terhadap ide-ide dari luar tradisi pesantren. Hal itu hanya akan menghambat perkembangan sastra pesantren sendiri, karena sasaran dari sastra pesantren bukanlah hanya pembaca-pembaca santri saja. Oleh sebab itu sastra pesantren bisa dikatakan bersifat inklusif, bukan eksklusif.
Harapan Prof. Dr .KH. Said Aqil Siraj para santri harus menyampaikan pesan agama sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan zaman sekarang dan yang akan datang. Maka dengan demikian bukan tidak mungkin masa depan kesusastraan Indonesia ada dalam genggaman para santri.
sastra Pesantren bersumber dari sastra islam klasik jazirah arab, maupun adopsi dari sastra-sastra jawa klasik.Dikalangan pesantren sendiri perkembangan sastra pesantren dipelopori oleh pendiri NU Hadhrotus Syeikh Hasyim Asy’ari, kemudian Syeikh Ihsan Jampes, dan sebagainya.
Kemunduran sastra pesantren disebabkan oleh dua kendala: Pertama, karena persoalan dramatis di pesantren berlangsung pada ”taraf terminologis” yang tinggi tingkatannya. Kedua, karena masih kakunya pandangan masyarakat kita terhadap manifestasi kehidupan beragama di negeri kita.
Posisi sastra pesantren ditengah-tengah ‘sastra gelap’ lainnya menjadi begitu penting. Sastra pesantren adalah ‘sastra terang’ yang memberikan pencerahan bagi banyak orang yang membutuhkan secercah cahaya harapan masa depan. Ia diharapkan mampu memberikan penyadaran tidak saja bagi sang penyairnya sendiri, tetapi orang-orang dapat menikmatinya. Wallahu a’lam…
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Muhammad. Dekonstruksi sastra pesantren: filologi, gender, filsafat, dan teologi. Jakarta: Fasindo,2006.
Nasrulloh, Fahrudin.“Pudarkah Satra Pesantren“.Kompas, 7 November 2009
http://www.nu.or.id, diakses 2 Februari2010.
Panolih, Krishna.“Sastra Pesantren Terpinggirkan“. Kompas, 19 Januari 2010.
Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 2005
“Pesantren Masih Minim Karya Tulis“. Republika, 10 November2009.
http://www.pondokpesantren.net, diakses 2 Februari 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar